Belajar Akuntansi
Bersama Kami Disini
Fekon Indonesia 2015.
Home » » Siklus Akuntansi Manufaktur

Siklus Akuntansi Manufaktur

Written By Dunia Saya on Sabtu, 05 Desember 2015 | 00.49

Metode Harga Pokok Proses


Pengertian Perusahaan Manufaktur Proses

Persediaan Barang Dalam Perusahaan Manufaktur
Perusahaan manufaktur proses adalah perusahaan yang memiliki kegiatan pokok membeli bahan baku dan mengolahnya menjadi barang jadi untuk dijual dengan harga tinggi, dan menggunakan metode harga pokok proses untuk menentukan harga pokok produk. Ciri-ciri perusahaan manufaktur proses antara lain kegiatan produksi dilakukan terus menerus dan spesifikasi produk yang dihasilkan sama antara satu dan lainnya (standar). Pengertian Metode Harga Pokok Proses adalah cara penentuan harga pokok produk dimana total biaya produksi dibebankan kepada proses produksi selama periode yang bersangkutan dan dibagikan sama rata kepada produk yang dihasilkan dalam periode tersebut. Contoh: Perusahaan industri elektronika, Industri peralatan kantor, Industri mebel dan furniture, Industri peralatan rumah tangga (houseware), Industri pakaian jadi (garment), Industri kertas, Industri sepatu dan sandal, Industri lampu pijar, Industri permen (candies).

Klasifikasi Biaya Dalam Perusahaan Manufaktur Proses

Biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan manufaktur proses sama seperti biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan manufaktur pesanan, seperti biaya produksi, biaya penjualan dan biaya administrasi/umum. Klasifikasi biaya dalam perusahaan manufaktur proses sebagai berikut:

1. Biaya Produksi (Production Costs)

1.1. Biaya bahan baku (Raw Material Cost) Biaya bahan baku adalah biaya yang terjadi karena pemakaian bahan baku dalam proses produksi dan menjadi bagian utama dari barang yang dihasilkan. Contohnya pemakaian kayu dan jok busa untuk perusahaan industri mebel dan furniture.
1.2. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost) Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk karyawan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. Contohnya gaji karyawan bagian pemotongan (cutting), uang lembur, uang jasa produksi, uang makan, dan sebagainya untuk perusahaan industri mebel dan furniture.
1.3. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya (Actual Factory Overhead Cost) Biaya overhead pabrik adalah biaya-biaya dikeluarkan atau dibebankan untuk kegiatan produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Contohnya pemakaian dempul, paku, vernis, cat, amplas, biaya listrik, biaya asuransi pabrik, dan sebagainya untuk perusahaan industri mebel dan furniture.
1.4. Biaya Overhead Pabrik Dibebankan (Applied Factory Overhead Cost)
Dalam perusahaan manufaktur proses, ada kesulitan dalam penentuan biaya overhead yang sesungguhnya terjadi pada akhir periode, seperti biaya listrik, air, dan lain-lain. Kesulitan ini diatasi dengan cara pembebanan biaya overhead pabrik (taksiran) ke dalam biaya produksi, dengan cara mendebet Persediaan BDP- Biaya Overhead dan mengkredit Biaya Overhead Pabrik. Selisih antara biaya overhead sesungguhnya (sebelah debet) dengan biaya overhead dibebankan (sebelah kredit) nampak pada buku besar biaya overhead pabrik ditutup dan dibebankan ke dalam biaya produksi pada akhir periode. Biaya Utama (Prime Cost)
Istilah biaya utama (prime cost) digunakan untuk biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Hal ini karena kedua unsur biaya ini merupakan biaya paling utama dalam proses produksi. Biaya Konversi (Conversion Cost)
Istilah biaya konversi (conversion cost) digunakan untuk biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Hal ini karena kedua unsur biaya ini diperlukan untuk merubah atau mengkonversikan bahan baku menjadi barang jadi.

2. Biaya Administrasi dan Umum (General and Admnistrations Expense)

2.1. Biaya Gaji Karyawan Administrasi & Umum (Office Salary Expense)
Contoh: Gaji manager, kasir, office boy, satpam, pembukuan, dan sebagainya.
2.2. Biaya Utilitas Kantor (Office Utility Expense)
Contoh: Biaya listrik, telepon, air untuk bagian kantor.
2.3. Biaya Perlengkapan Kantor (Office Supplies Expense)
Contoh: pemakaian alat tulis kantor, tinta printer, pita mesin tik, formulir-formulir, buku, kertas, dan sebagainya.
2.4. Biaya asuransi bagian kantor (Office Insurance Expense)
Contoh: Alokasi biaya asuransi untuk bagian kantor.
2.5. Biaya-biaya lain yang berhubungan dengan kegiatan administrasi kantor.

3. Biaya Penjualan (Selling Expense)

3.1. Biaya Gaji Karyawan Penjualan (Selling Salary Expense)
Contoh: Gaji manager, salesman, uang makan, komisi penjualan, dan sebagainya
3.2. Biaya promosi (Promotion Expense)
Contoh: Biaya pembuatan spanduk/banner, biaya iklan media cetak, dan sebagainya yang berkaitan dengan kegiatan promosi.
3.3. Biaya komisi order ( Commision Expense)
Contoh: komisi untuk pemberi order, dan sebagainya
3.4. Biaya transport penjualan (Transportation Expense)
Contoh: Biaya bahan bakar mobil boks, biaya servis mobil, uang transport harian, dan sebagainya.
3.5. Biaya asuransi bagian penjualan (Selling Insurance Expense)
Contoh: Alokasi biaya asuransi mobil boks, biaya asuransi kantor bagian penjualan.

Persediaan Barang Dalam Perusahaan Manufaktur

Kembali Ke Pengertian
Jenis-jenis persediaan dalam perusahaan manufaktur dapat dikelompokkan menjadi:

1. Persediaan Bahan Baku (Raw Material Inventory)

Istilah ini sering juga disebut Persedian Bahan (Material) saja. Persedian bahan adalah akun yang menunjukkan nilai harga pokok persediaan bahan baku yang tersedia pada suatu saat tertentu dan siap digunakan untuk proses produksi. Nilai persediaan akhir bahan diperoleh dari persediaan awal bahan ditambah dengan jumlah pembelian bersih bahan dan dikurangi dengan jumlah pemakaian bahan yang telah digunakan untuk produksi dalam satu periode. Contoh: Persediaan kayu ramin, kayu rasamala, kayu meranti, kayu ebony, jok busa, jok limbah kayu, untuk perusahaan industri mebel dan furniture.

2.Persediaan Bahan Penolong (Sub Material Inventory)

Persedian bahan penolong adalah akun yang menunjukkan nilai harga pokok persediaan penolong yang tersedia pada suatu saat tertentu dan siap digunakan untuk membantu proses produksi. Nilai persediaan akhir bahan penolong diperoleh dari persediaan awal bahan penolong ditambah dengan jumlah pembelian bersih bahan penolong dan dikurangi dengan jumlah pemakaian bahan penolong yang telah digunakan untuk produksi dalam satu periode. Contoh: Persediaan dempul, vernis, paku, amplas, cat melamix, cat semprot, dan sebagainya, untuk perusahaan industri mebel dan furniture..

3. Persediaan Barang Dalam Proses (Work In Process Inventory)

Persediaan barang dalam proses (BDP) merupakan akun yang menunjukkan nilai bahan, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik yang sudah digunakan dalam proses produksi tetapi belum selesai sebagai barang jadi pada akhir periode. Nilai persediaan akhir BDP diperoleh dari persediaan awal BDP ditambah dengan jumlah biaya bahan, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik yang telah digunakan untuk menyelesaikannya, kemudian dikurangi dengan nilai persediaan barang jadi yang selesai dalam satu periode. Contoh: Persediaan BDP- kursi macintosh, Persediaan BDP- kursi olympia, Persediaan BDP- meja ½ biro, untuk perusahaan industri mebel dan furniture.

4. Persediaan Barang Jadi (Finished Goods Inventory)

Persediaan barang jadi adalah akun yang menunjukkan harga pokok barang yang sudah selesai dikerjakan dan nilai barang jadi yang masih ada pada akhir periode yang siap untuk dijual atau dikirimkan. Nilai persediaan akhir barang jadi diperoleh dari persediaan awal barang jadi ditambah dengan jumlah barang dalam proses (BDP) yang sudah selesai dikerjakan dan dikurangi dengan harga pokok penjualan barang dijual dalam satu periode. Contoh: Persediaan barang jadi- kursi macintosh, Persediaan barang jadi- kursi olympia, Persediaan barang jadi- meja ½ biro, dan sebagainya untuk perusahaan industri mebel dan furniture.
SHARE

About Dunia Saya

0 komentar :

Posting Komentar